MENINGKATKAN KINERJA (MEMBIDIK KADER KREATIF & PRODUKTIF)

Oleh : Suparjon Ali Haq Al Tsabit

Jika diibaratkan sebuah sistem produksi, maka jama’ah (organisasi) ibarat sebuah mesin, dan orang-orang yang berada di dalamnya (kader da’wah) adalah gerigi-gerigi yang saling berkait dan akan memutar roda da’wah tersebut. Jika setiap elemen geriginya senantiasa ”sehat” maka akan mampu menghasilkan sebanyak mungkin produk-produk da’wah. Ketika satu saja gerigi tersebut terganggu maka produknya pun dapat dipastikan akan berkurang. Karena itulah gerigi-gerigi itu perlu terus diberikan olesan ”oli” yang bisa memberikannya kelembutan, kekuatan, kelenturan ketika ia digunakan kembali dalam produktifitas kerjanya. Setiap kita mengambil peranan masing-masing dalam memutar roda da’wah tersebut, namun kadangkala karena aktivitas amal kita yang sangat padat, dan banyak sehingga menyebabkan kita tidak sempat memperbaiki kembali kekuatan internal diri kita (Tarbiyah Dzatiyah), hal ini disebabkan mungkin saja karena banyaknya targetan-targetan kerja yang harus kita selesaikan dalam waktu yang terbatas. Hal ini boleh jadi menyebabkan kerja yang diamanahkan kepada kita terselesaikan dengan baik, namun disisi lain menimbulkan kelelahan diri yang luar biasa, ibarat gerigi yang jarang di beri cairan oli namun terus digunakan, lama kelamaan berkarat dan mulai tak dapat digunakan lagi. Tulisan ringan ini mencoba memberikan polesan-polesan energi baru bagi kita yang sangat super sibuk dengan berbagai aktivitas kebaikan agar tetap bisa konsisten dalam menjalankan kerja dan memiliki ”Disiplin ruhiyah dan fighting spririt” untuk sampai kepada tujuan dermaga kebaikan da’wah. Bila kita bicara dalam bingkai meningkatkan kinerja, maka kita memulai pembicaraan ini dimulai tentang kerja itu sendiri. Kerja, bila kita ambil maknanya secara sederhana bisa diartikan suatu aktivitas fisik dan fisikis yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan sesuatu yang ia inginkan atau suatu aktivitas yng dilakukan seseorang secara terencana, sadar, dan sistematis serta memiliki tujuan yang jelas. Karena itu, suatu pekerjaan memerlukan pemahaman dan kesadaran dari apa yang kita lakukan. Dalam dunia amal atau kerja hal tersebut sering disebut sebagai ”Etos Kerja” yakni suatu semangat serta kesadaran yang baik serta benar terhadap sesuatu yang kita lakukan. Nah, etos kerja inilah yang banyak tidak kita ketahui atau juga tidak kita miliki dalam beramal, terutama dalam melakukan kegiatan da’wah. Kalau kita ibaratkan tubuh kita yang sering membutuhkan nutrisi, dan bukan sekedar makanan, maka dalam hal pekerjaan, kitapun sangat membutuhkan spirit sukses. Nah, nutrisi atau spirit yang kita maksud itulah yang dinamakan Etos. Karena itu, dalam meningkatkan kerja kita harus memiliki ”etos kerja” yang benar. Ada beberapa prilaku kerja yang seharusnya kita perhatikan sebelum memulai suatu pekerjaan, yakni : Kita harus mampu bekerja tulus penuh syukur Kita harus mampu bekerja benar penuh tanggungjawab Kita harus mampu bekerja tuntas penuh integritas Kita harus mampu bekerja keras penuh semangat  Kita harus mampu bekerja serius penuh kecintaan Kita harus mampu bekerja cerdas penuh kreativitas Kita harus mampu bekerja tekun penuh keunggulan Kita harus mampu bekerja paripurna penuh kerendahan hatiUntuk menghasilkan kerja yang baik, maka setiap orang harus memiliki kesadaran dan kepercayan terlebih dahulu terhadap paradigma kerja tersebut di atas, sebab bila tampa kesadaran yang baik dalam memahami paradigma kerja yang kita lakukan maka upaya membangkitkan semangat kerja tidak akan berjalan dengan baik. Jadi, jika seseorang, suatu organisasi, atau suatu komunitas menganut paradigma kerja tertentu, percaya padanya secara tulus dan serius, serta berkomitmen pada paradigma kerja tersebut maka kepercayaan itu akan melahirkan sikap kerja dan prilaku kerja mereka secara khas. Itulah etos kerja mereka, dan itu pula budaya kerja mereka.Dari budaya kerja yang ada tersebut, ada beberapa etos kerja yang baik untuk kita ketahui, pelajari dan lakukan bersama dalam kita menyusun kembali amal-amal kita agar menjadi amal yang produktifitas dan keratif, antara lain : 1. Kerja Adalah Rahmat (Aku Bekerja Tulus Penuh Syukur) Kerja adalah Rahmat maksudnya adalah suatu pekerjaan itu merupakan suatu karunia dari Tuhan yang diberikannya kepada manusia, tidak semua manusia menyadari bahwa apa yang dia lakukan sebenarnya adalah salah satu wujud kasih sayang Tuhan yang memberikannya kemampuan untuk menggerakkan serta memanfaatkan potensi di dalam dirinya. Maka, orang yang memahami bahwa rahmat Tuhan yang berwujud suatu aktivitas adalah sesuatu yang mesti di syukuri, karena kerja itu adalah anugrah dari Tuhan langgsung. Karena kita menyadari bahwa kerja adalah Rahmat dan anugrah dari Tuhan maka kita malu untuk melakukan sesuatu pekerjaan di hadapan-Nya dengan wajah yang suram, keterpaksaan, pastilah kita sadari bahwa ketulusan menjadi tanda rahmat Tuhan untuk tetap memberikan kemampuan bagi kita guna menjalankan aktivitas tersebut di esok harinya. Seperti yang diungkapkan Konosuke Matsushita ”Kalau kita selalu baik dan menjadi rahmat bagi sesama, maka kebaikan dan rahmat akan selalu bersama kita”. Karena itu setiap perbuatan yang kita lakukan adalah wujud dari Rahmat Tuhan kepada kita. Coba bayangkan jika dunia ini tampa Rahamat Tuhan pastilah kita selalu berpikir bahwa apa yang kita lakukan mustahil dapat tercapai, pasti dengan Rahmat Tuhan sesuatu yang dahulunya tidak ada dan hanya hayalan sekarang dapat terlaksana. Maka bekerjalah dengan tulus penuh syukur karena Tuhan telah memberikan Rahmatnya kepada kita dari amanah kerja yang sekarang kita emban.2. Kerja Adalah Amanah (Aku Bekerja Benar Penuh Tanggung Jawab) Baharuddin Lopa (Mantan Jaksa Agung RI) menyatakan ”Biarpun langit runtuh, hukum harus ditegakkan !”, begitulah ia memahami prinsip kerja sabagai amanah yang harus dijalakan, dalam situasi apapun. Kalau kita tidak memahami bahwa pekerjan bukan sekedar suatu tugas yang harus dilakukan tanpa diminta sebuah kesadaran bahwa itu merupakan tanggung jawab yang diberikan kepada kita, mungkin sudah lama kita mengatakan ”Emangnya gue pikirin”, kira-kira begitulah ketika kita diberikan suatu tugas untuk kita selesaikan. Kerja adalah amanah yang Tuhan berikan kepada kita manusia. Manusia diberikan Amanah oleh Allah SWT untuk menjaga, memelihara, merawat alam jagat ini, termasuk juga aktivitasnya adalah suatu wujud dari amanah. Karena itu, dari kesadaran akan diri kita bahwa kita semua memegang amanah dari Tuhan dari semua tindakan kita maka akan lahir dari larim amanah tersebut sebuah Tanggungjawab. Tanggungjawab lahir dari kesadaran penuh terhadap amanah tersebut, dengan kata lain tidak akan ada tanggungjawab jika kita tidak memahami konsep amanah.3. Kerja Adalah Panggilan (Aku Bekerja Tuntas Penuh Integritas) Kerja adalah panggilan Tuhan kepada ummatnya untuk melakukan kegiatan ataupun menekuni kegiatan. Pekerjaan merupakan Dharma kita kepada Tuhan. Banyak dianatara kita yang tidak menyadari bahwa kita telah dipanggil Tuhan untuk melakukan tugas-tugas khusus di muka bumi ini. Tapi bagi orang-orang yang menyadari bahwa kerja atau pekerjaan itu, apapun bentuknya merupakan wujut seruan Tuhan yang memanggilnya dengan kasih sayang untuk melakukan kebaikan, maka orang tersebut pasti melakukan pekerjaan tersebut dengan penghayatan yang baik dan mengerjakannya dengan sikap religius. Panggilan untuk melakukan pekerjaan itu adalah panggilan hati yang suci, panggilan yang muncul dari kesadaran bahwa kita harus melakukan kebaikan tersebut. Seperti sahabat-sahabat nabi Allah Muhammad SAW ketika mereka mendengar panggilan untuk berjihad, maka tidak ada tawar menawar dalam hati mereka, mereka bersegera menyambut panggilan itu, walaupun ada yang baru saja menikah, cacat fisiknya, kekurangan harta, dan lain sebagainya. Panggilan itu disambut dengan komitmen untuk menuntaskannya hingga selesai dengan kualitas terbaik yakni syahid dengan kemuliaan atau menang dengan kemuliaan pula. Bagaimana dengan kita, apakah pekerjaan yang selama ini diberikan kepada kita kita pahami sebagai panggilan suci Tuhan kepada kita atau bukan ??.4. Kerja Adalah Aktualisasi (Aku Bekerja Keras Penuh dengan Semangat) Pepatah Moor, menyatakan ”Bekerjalah maka kamu akan kuat, berpangku tanganlah maka kamu kan membusuk”. Pekerjaan adalah menggambarkan ekspresi diri kita, mengembangkan potensi diri, karena memang kerja adalah upaya mengerahkan energi biologis, psikologis, dan spritual yang akan membentuk karakter dan kompetensi diri, sekaligus juga membuat diri kita sehat dan kuat lahir batin. Kita tau bahwa otot akan kuat jika kita latih untuk memikul beban yang berat sehingga membentuk pola tubuh yang indah. Begitu juga dengan kerja, bila kita terus menekuninya dengan baik, dengan penuh kesungguhan, dan semangat maka akan terbentuk sebuah etos kerja yang luar biasa.5. Kerja adalah Ibadah (Aku Bekerja Serius Penuh Kecintaan) Islam mengajarkan kepada kita penggikutnya, bahwa segala sesuatu pebuatan yang kita lakukan merupakan suatu aktivitas ibadah jika segala aktivitas tersebut kita sandarkan kepada Allah SWT. Kerja itu menjadi ibadah jika kita lakukan dengan segenap hati, mengabdi tuntas penuh totalitas, dan berserah pasrah dengan segenap cinta terhadap yang kita lakukan. Ibadah seseorang terlihat jelas pada etosnya, dan teologinya terlihat pada etikannya. Jika seseorang bekerja untuk da’wah dan menjadikan da’wah itu menjadi bagian kerja yang bernilai ibadah, maka kita bisa melihat betapa besar kesungguhan, keseriusan dan kasih sayangnya terhadap kerja itu untuk Tuhannya, tanpa melupakan hak-hak manusiawinnya tentunya. Dengan kesadaran kerja adalah ibadah tersebut maka kita akan melakukan segala sesuatu kegiatan dengan kekuatan yang terindah dari alam ini berupa Cinta, karena cinta adalah satu-satunya kekuatan yang memampukan manusia menghayati penderitaan sebagai kebahagiaan. Merasakan kerja yang berat dalam jama’ah sebagai suatu ungkapan kecitaan terhadap Allah dan hamba-Nyalah yang menyebabkan kita memandang saudara kita dengan cinta dan kasih sayang ketika ia mengalami kekeliruan dan kesalahan dalam memahami amanah kerja yang kita berikan, dengan pemahaman ibadah pula kemudian kita bersungguh-sungguh dengan kesabaran dan tekad mengembalikannya kepada pemahaman yang sebenarnya. 6. Kerja Adalah Seni (Aku Bekerja Cerdas Penuh Kreativitas) Kerja sebagai seni artinya bahwa kerja itu kadang kala tidak dibingkai dengan formalitas belaka, ada atasan dan bawahan. Akan tetapi ia menjadi guratan naturalistik kadangkala disatu pihak dimana atasan dan bawahan dibingkai prinsip persaudaraan secara non-formal atau sebaliknya penuh dengan nuansa keterbukan, kecerahan, irama kerja yang kadang kala membutuhkan gerak lentur dari tarian tubuh kita. Seni adalah ekspresi jiwa manusia, karena itu kerja adalah seni maksudnya kita bekerja dengan penuh gagasan, cipta serta karsa yang membuat nyaman mata dan teduh memandang pekerjaan itu, dan merasa tidak tertarik jika kita melihat kerja yang hanya diwarnai oleh satu polesan saja. Oleh karena itu orang yang melihat kerja sebagai seni akan mencari sebanyak mungkin ide atau gagasan agar hasil karyannya menjadi daya tarik bagi dirinya maupun orang lain dan itu lah makna kreativitas dan kecerdasan mencari inovasi kerja.7. Kerja Adalah Kehormatan (Aku Bekerja Tekun Penuh Keunggulan) Booker T. Washington mengungkapkan ”Semua pekerjan yang dilakukan dengan tulus adalah pekerjaan yang terhormat”. Kerja adalah kehormatan karena bekarya dengan kemampuan sendiri adalah suatu kebajikan sosial, di mana kita diakui sebagai manusia produktif dan kontributif. Mencari kehormatan merupakan salah satu motivasi terkuat dalam struktur hati manusia yang adalah ekspresi langsung spritualitas terbaik kita. Kehormatan adalah harga diri yang dipertaruhkan. Dalam konteks kerja, kehormatan berarti prestasi unggul karena berprestasi tinggi mengundang rasa hormat orang lain terhadap kita, dan sebaliknya jika kita tidak bekerja dengan baik, tekun serta penuh dengan nilai keunggulan, maka kehormatan yang ada di dalam diri kitapun akan menjadi sasaran perbincangan orang lain, hilang muka itulah kata lainnya. Karena itu bekerjalah dengan baik, benar, tekun, jangan berhenti sebelum menyelesaikannya dengan baik. Karena kehormatan berakar pada kualitas diri.8. Kerja Adalah Pelayanan (Aku Bekerja Sempurna Penuh Kerendahan Hati) Apapun pekerjaan kita, sesungguhnya kita sedang memberikan pelayanan. Secara sosial pelayanan adalah hal yang mulia, karena itu hakikat pekerjaan kita pun mulia dan sebagai makhluk pekerja kita semua adalah insan yang mulia. Orang yang bekerja untuk dirinya sendiri adalah normal. Tetapi orang yang melalui pekejaannya mengabdi kepada sesuatu yang lebih besar daripada dirinya, apakah itu masyarakat, negara, lingkungan hidup, Agama terutama, maka hal itu merupakan hal yng mulia. Tujuan dari pelayanan yang terpenting adalah agar kita selalu bekerja paripurna dengan tetap merendahkan diri, sebagaimana yang dilakukan oleh para Nabi dan Rasul yang mana mereka juga adalah melayani ummat dan Allah SWT.Dengan delapan etos kerja ini, mari sama-sama kita melihat kembali hasil-hasil kerja kita selama ini, dan juga mari kita perbaharui semangat kerja kita untuk kebaikan ummmat ini dimasa yang akan datang serta menjadi kebaikkan juga bagi kita untuk memuhasabah diri atas apa yang telah dan akan kita lakukan. Semoga tulisan ini menjadi inspirasi kesadaran untuk kita membentuk etos kerja di kehidupan kita dimanapun, kapanpun, dan dalam keadaan apapun, dan menjadikan kita menjadi kader-kader yang kreatif dan produktif dalam setiap aktivitas kita dalam da’wah ini. Semoga Allah SWT memberkahi kerja-kerja baik kita dan menghapus kesalahan atas kerja buruk kita. Amiin. ”Bekerjalah Kalian Biarlah Allah, Para Rasul dan Orang-orang yang Beriman yang Menilainnya”.

Palembang, 13 Juni 2007Ust. Tsabit Alihaq Ketua DDII Kabupaten Ogan Komering Ilir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.